RINGKASNEWS.ID - Dewan Energi Nasional (DEN) menilai Cirebon Power layak menjadi salah satu contoh pengelolaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia. Penilaian tersebut disampaikan setelah sejumlah anggota DEN melakukan kunjungan ke fasilitas PLTU Cirebon, Sabtu (13/6/2026).
Dalam kunjungan itu, anggota DEN melihat langsung operasional pembangkit, mulai dari pengelolaan batu bara hingga proses produksi listrik. Selain kinerja operasional, perhatian perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar juga menjadi sorotan.
Anggota DEN dari unsur industri, Sripeni Inten Cahyani mengatakan, Cirebon Power menunjukkan pengelolaan pembangkit yang berjalan dengan baik. Menurutnya, hal itu terlihat dari operasional pembangkit yang andal serta kondisi fasilitas yang terawat.
"Kami melihat pengelolaan pembangkitnya cukup baik, mulai dari pengelolaan batu bara sampai operasionalnya. Kondisi pembangkit juga bersih dan tertata," kata Sripeni.
Ia menambahkan, penggunaan teknologi supercritical (SC) dan ultra super critical (USC) menjadi salah satu langkah perusahaan dalam meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi. Cirebon Power juga disebut tengah mengkaji penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai bagian dari upaya pengurangan karbon.
Selain aspek operasional, Sripeni mengapresiasi berbagai program sosial dan lingkungan yang dijalankan perusahaan. Program penanaman mangrove, pemberdayaan UMKM, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pelatihan masyarakat dinilai memberikan manfaat bagi warga sekitar.
Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi faktor penting bagi keberlangsungan operasional sebuah perusahaan. Karena itu, program yang melibatkan masyarakat perlu terus diperkuat.
Penilaian serupa disampaikan anggota DEN lainnya, Muhammad Kholid Syeirazi. Ia menilai Cirebon Power telah menunjukkan praktik pengelolaan PLTU yang tetap memperhatikan agenda pengurangan emisi melalui pemanfaatan teknologi yang lebih efisien.
Kholid mengatakan keberadaan PLTU Cirebon juga memiliki peran penting dalam menjaga keandalan pasokan listrik di sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali). Di sisi lain, berbagai program keberlanjutan yang dijalankan perusahaan dinilai menjadi nilai tambah dalam operasional pembangkit.
"Saya kira ini bisa menjadi salah satu role model PLTU dan pembangkit listrik secara umum karena tidak hanya fokus pada operasional, tetapi juga memperhatikan lingkungan dan masyarakat sekitar," ucapnya.
Ia menambahkan, Indonesia saat ini masih membutuhkan PLTU sebagai penopang pasokan listrik nasional. Namun demikian, pengurangan emisi tetap harus menjadi perhatian melalui penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama Cirebon Power, Joseph Pangalila, menyambut baik berbagai masukan yang diberikan anggota DEN selama kunjungan berlangsung. Menurutnya, diskusi yang dilakukan menjadi kesempatan untuk menyampaikan berbagai kondisi yang dihadapi industri ketenagalistrikan.
Salah satu isu yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah pasokan batu bara yang belakangan mengalami penurunan di sejumlah pembangkit listrik. Cirebon Power berharap masukan yang disampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan energi nasional.
"Kami berharap berbagai masukan yang kami sampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perbaikan kebijakan energi nasional, termasuk terkait pasokan batu bara yang saat ini menghadapi sejumlah tantangan," kata Joseph.
Ia menambahkan, perusahaan terus berupaya menjaga keandalan pasokan bahan bakar dengan memperkuat koordinasi bersama para pemasok dan membuka peluang kerja sama dengan sumber pasokan lainnya.
"Dari sisi perusahaan, kami terus berdiskusi dengan para pemasok batu bara untuk meningkatkan pasokan serta mencari alternatif sumber suplai lainnya," pungkasnya.
