Transisi Energi Dinilai Belum Adil, Warga di Tiga Daerah Soroti Minimnya Keterlibatan

Sabtu, 11 Apr 2026 17:08
    Bagikan  
Transisi Energi Dinilai Belum Adil, Warga di Tiga Daerah Soroti Minimnya Keterlibatan
Ist

Nelayan tradisional yang tinggal di sekitar PLTU Cirebon dinilai mengalami perubahan ekonomi signifikan.

RINGKASNEWS.ID - Upaya transisi energi di Indonesia dinilai belum sepenuhnya berjalan adil dan inklusif. Di tengah dorongan global untuk mengurangi emisi, masyarakat di sejumlah daerah justru menyoroti masih minimnya keterlibatan mereka dalam proyek energi baru terbarukan (EBT).

Persoalan ini mengemuka dalam rangkaian Lokakarya Transisi Energi Berkeadilan yang digelar di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Jawa Barat. Warga terdampak menyuarakan hal serupa: percepatan transisi energi perlu dibarengi transparansi, keadilan, dan penghormatan terhadap kondisi lokal.

Di sisi lain, dinamika global seperti potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Timur Tengah turut menambah urgensi percepatan transisi energi. Namun, kebijakan pembatalan pensiun dini sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dinilai justru memperlambat langkah tersebut.

Padahal, sektor energi masih menjadi penyumbang besar emisi global. Batu bara bahkan diperkirakan masih menjadi sumber listrik utama hingga 2030.

Indonesia sendiri telah menetapkan target penurunan emisi melalui komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) dan Net Zero Emission 2060, meski implementasinya di lapangan belum optimal.

Di Sumatera Utara, Direktur Yayasan Srikandi Lestari, Sumiati Surbakti, mengungkapkan sebagian besar warga di sekitar PLTU Pangkalan Susu sebenarnya telah memahami dampak negatif penggunaan batu bara.

“Sekitar 70 persen warga sudah memahami dampak pembakaran batu bara. Namun, narasi bahwa energi bersih mahal membuat minat terhadap transisi energi menjadi rendah,” ujar Sumiati, Jumat (10/4/2026).

Ia menekankan pentingnya kejelasan program pemulihan lingkungan serta kompensasi yang adil bagi masyarakat terdampak, terutama jika kebijakan pensiun dini PLTU benar-benar dijalankan.

“Yang terpenting adalah adanya kompensasi yang adil bagi masyarakat terdampak, karena ini berkaitan dengan masa depan mereka,” kata dia.

Sementara itu di Jawa Barat, rencana pensiun dini PLTU Cirebon-1 mendapat respons positif dari warga, khususnya nelayan dan pekerja sektor perikanan. Mereka menilai keberadaan infrastruktur PLTU selama ini telah berdampak pada aktivitas dan penghasilan.

Wiwid, seorang pengupas rajungan dari Desa Waruduwur, Indramayu, mengatakan hasil tangkapan laut mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami juga terdampak. Hasil tangkapan rajungan menurun, sehingga pendapatan ikut berkurang,” ucapnya dalam diskusi.

Selain itu, keberadaan jetty atau dermaga pengangkutan batu bara disebut menghambat jalur melaut nelayan, sehingga mereka harus memutar lebih jauh.

Di Sumatera Barat, persoalan transisi energi dinilai tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut konflik sosial. Minimnya transparansi dan pelibatan masyarakat sejak awal proyek kerap memicu penolakan.

Direktur LBH Padang, Diki Rafiqi, menilai sejumlah proyek energi justru memunculkan ketegangan di masyarakat.

“Konflik dalam proyek energi terjadi karena pemerintah lebih fokus pada narasi transisi, tanpa memastikan keterlibatan masyarakat. Akibatnya, proyek skala besar dipandang sebagai bentuk eksploitasi sumber daya alam,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Peneliti Center for Agrarian and Environmental Justice (CAEJ) Universitas Andalas, Apriwan. Ia menilai masalah utama bukan pada kurangnya kebijakan, melainkan ketidaksesuaian antara kebijakan nasional dan kondisi lokal.

“Masalah yang muncul meliputi resistensi sosial, konflik tanah ulayat, hingga krisis kepercayaan. Ini menunjukkan adanya kesenjangan keadilan dalam tata kelola transisi energi,” kata Apriwan.

Menurut dia, pendekatan berbasis kearifan lokal perlu diintegrasikan dalam kebijakan nasional, termasuk prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dan Salingka Nagari.

Di Sumatera Utara, Onrizal dari Green Justice Indonesia menilai transisi energi berkeadilan dapat menjadi peluang untuk membangun ekonomi hijau sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Sumatera Utara memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Ini bisa dimanfaatkan untuk mempercepat transisi energi sekaligus menjaga keadilan sosial,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Rhizoma, Meiki Paendong, menegaskan bahwa transisi energi tidak semata soal teknologi, tetapi juga menyangkut aspek sosial yang lebih luas.

“Pensiun dini PLTU bukan hanya soal mengganti teknologi, tetapi juga memastikan keadilan bagi masyarakat terdampak. Suara warga harus menjadi bagian penting dalam setiap pengambilan kebijakan,” kata Meiki.

Ia menambahkan, tanpa pelibatan masyarakat secara aktif, transisi energi berpotensi menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Transisi Energi Dinilai Belum Adil, Warga di Tiga Daerah Soroti Minimnya Keterlibatan
Banyak WP Terdaftar di Luar Daerah, DJP dan Pemkab Indramayu Cari Jalan Keluar
Dibubarkan Warga, Dua Pelajar di Cirebon Terjatuh Saat Kabur, Polisi: Bukan Tawuran
Resmob Polres Cirebon Kota Bekuk Penculik Anak di Toko Milik Pelaku
Sempat Hilang Dua Hari, Bocah Perempuan di Kota Cirebon Ditemukan dengan Luka di Kaki
KAI Daop 3 Cirebon: Jalur Bumiayu Kembali Normal Usai Anjlok
DPRD Kabupaten Cirebon Soroti Infrastruktur Jalan dalam Pembahasan LKPJ
Kereta Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Perjalanan KA Dialihkan dan Dibatalkan
Truk Tangki Air Oleng di Jalan Sudirman Kota Cirebon, Satu Tewas dan Tujuh Luka
Sekolah Lima Hari di SD Kota Cirebon Dimulai, DPRD Wanti-wanti Kesiapan
Fadli Zon Tinjau Gedung Kesenian di Cirebon, Siap Didorong Jadi Pusat Budaya
Kecelakaan di Flyover Pegambiran, Dua Pemudik Asal Tegal Meninggal Dunia
Intel Kodim 0614 Cirebon Ringkus Pengedar Sinte di Drajat Usai Aksi Kejar-kejaran
Pria Meninggal Dunia di Kamar Kos Kedawung, Polisi Pastikan Tak Ada Unsur Kekerasan
Kuasa Hukum Ono Surono Angkat Bicara Soal Penggeledahan KPK
"Kulanun–Mangga" Diluncurkan, Dedi Mulyadi Soroti Identitas Budaya dan Pembangunan Cirebon
DPRD Kabupaten Cirebon: Hari Jadi ke-544 Jadi Momen Refleksi Pembangunan Daerah
371 Ribu Penumpang Gunakan KA di Daop 3 Cirebon Selama Lebaran 2026
Hari Jadi ke-544, DPRD Kabupaten Cirebon Resmikan Salam Khas “Kulanun–Mangga”
Polres Cirebon Kota Ungkap Jaringan Obat Ilegal, Pelaku Diciduk di Tiga Lokasi
RINGKAS RADIO NET