RINGKASNEWS.ID - Sistem sekolah lima hari resmi mulai diterapkan di sejumlah Sekolah Dasar (SD) di Kota Cirebon, Senin (6/4/2026). Kebijakan ini langsung menjadi perhatian DPRD Kota Cirebon, yang mengingatkan pentingnya kesiapan sekolah hingga keluarga dalam menjalankannya.
Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon, Rinna Suryanti, menilai penerapan sistem tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari arah kebijakan nasional dalam penguatan sumber daya manusia di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelaksanaan di daerah tidak bisa dilakukan secara seragam tanpa melihat kondisi di lapangan.
“Secara konsep ini baik, karena mendorong efektivitas belajar sekaligus memberi ruang lebih bagi anak untuk bersama keluarga. Tapi yang paling penting adalah kesiapan di daerah,” ujar Rinna, Senin (6/4).
Ia menyebut, hari pertama pelaksanaan menjadi momen awal untuk melihat bagaimana sekolah beradaptasi, terutama terkait perubahan durasi belajar yang kini menjadi lebih panjang dalam satu hari.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kesiapan sarana dan prasarana yang memadai, mulai dari ruang kelas yang nyaman, sirkulasi udara yang baik, hingga fasilitas sanitasi.
“Kalau fasilitas belum siap, dikhawatirkan anak-anak justru cepat lelah dan pembelajaran tidak maksimal,” katanya.
Selain faktor sekolah, Rinna juga menyoroti kesiapan keluarga. Dengan dua hari libur, peran orang tua dalam mendampingi anak menjadi semakin penting. Namun, ia mengakui tidak semua keluarga memiliki kondisi yang sama.
“Ada orang tua yang waktunya terbatas karena bekerja. Ini juga harus dipertimbangkan, karena kebijakan ini berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat,” ucapnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan agar pemadatan jam pelajaran tidak menjadi beban tambahan bagi siswa. Menurutnya, pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan variatif perlu diterapkan agar suasana belajar tetap nyaman dan tidak menimbulkan kejenuhan.
Rinna mendorong Dinas Pendidikan Kota Cirebon untuk melakukan evaluasi sejak awal pelaksanaan. Masukan dari sekolah, guru, orang tua, hingga siswa dinilai penting untuk memastikan kebijakan ini berjalan sesuai tujuan.
“Evaluasi harus dilakukan secara berkala. Kalau ada kendala, harus cepat diperbaiki,” tegasnya.
Ia menambahkan, sistem sekolah lima hari juga bisa menjadi peluang untuk memperkuat peran keluarga dan lingkungan dalam pendidikan anak, terutama melalui kegiatan positif di luar jam sekolah.
Pada akhirnya, Rinna menegaskan bahwa ukuran keberhasilan kebijakan ini adalah dampaknya terhadap anak.
“Yang utama adalah bagaimana anak-anak tetap bisa belajar dengan baik, sehat secara mental, dan berkembang secara sosial. Itu yang harus dijaga,” tuturnya.
Ia berharap, dengan kesiapan yang matang dan evaluasi berkelanjutan, penerapan sistem sekolah lima hari di SD Kota Cirebon dapat benar-benar meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sekadar perubahan pola belajar.