Mata Sepet di Jalanan, Keluhan Sehari-hari Pengemudi Ojol

Sabtu, 3 Jan 2026 16:17
    Bagikan  
Mata Sepet di Jalanan, Keluhan Sehari-hari Pengemudi Ojol
(Foto: Ringkas Media)

Pengendara ojek online beraktivitas di jalanan saat cuaca tak menentu. Paparan angin, polusi, dan perubahan cuaca dapat memicu keluhan mata sepet, perih, dan lelah.

RINGKASNEWS.ID - Cuaca yang berubah-ubah, angin jalanan, dan paparan polusi menjadi bagian dari keseharian pengemudi ojek online (ojol). Dalam kondisi tersebut, keluhan mata terasa sepet, perih, dan cepat lelah kerap muncul, namun sering dianggap sepele.

Keluhan tersebut dirasakan Abdul Razaq, pengemudi ojol di Cirebon. Hampir setiap hari, ia menghabiskan waktu berjam-jam di jalan untuk mengantar penumpang dan pesanan makanan, termasuk saat musim hujan seperti belakangan ini.

“Kalau lagi hujan atau mendung, tetap saja mata terasa sepet dan perih. Apalagi kalau kena angin atau cipratan air,” kata Abdul saat ditemui usai menarik order di pusat kota Cirebon, Sabtu (3/1/2026).

Menurut Abdul, kondisi mata biasanya mulai terasa tidak nyaman setelah beberapa jam berkendara. Ia harus tetap fokus menatap jalan sekaligus melihat peta dan notifikasi pesanan di ponsel. Kombinasi ini membuat matanya cepat lelah.

“Kadang harus sering-sering merem sebentar pas berhenti. Kalau sudah sore, mata rasanya capek dan perih,” ujarnya.

Awalnya, Abdul menganggap keluhan tersebut sebagai hal biasa. Ia mengira mata terasa tidak nyaman hanya akibat kelelahan bekerja di jalan. Namun, keluhan itu terus berulang hampir setiap hari.

Pengalaman Abdul mencerminkan kondisi banyak pekerja lapangan di perkotaan. Paparan angin, polusi udara, perubahan cuaca, serta kebiasaan menatap layar ponsel dalam waktu lama menjadi faktor yang dapat memicu mata kering. Sayangnya, gejalanya sering tidak disadari karena muncul perlahan dan terasa ringan.

Padahal, prevalensi mata kering di wilayah urban tergolong tinggi. Di Jakarta dan Bandung, angkanya mencapai sekitar 41 persen. Ironisnya, banyak orang dengan mata kering tidak menyadari kondisinya karena menganggap keluhan mata sebagai hal sepele.

Mata kering terjadi ketika mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup, baik karena produksi air mata berkurang maupun kualitasnya tidak optimal. Akibatnya, permukaan mata menjadi lebih sensitif dan mudah terasa sepet, perih, atau lelah.

Gejala SePeLe—sepet, perih, dan lelah—kerap dianggap wajar, terutama oleh mereka yang bekerja di luar ruangan. Padahal, jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan dan konsentrasi, termasuk saat berkendara di jalan raya.

Abdul mengaku baru mulai memperhatikan kondisi matanya setelah mengetahui bahwa keluhan yang ia alami berkaitan dengan mata kering. Sejak itu, ia mencoba lebih peduli terhadap kesehatan mata di sela-sela aktivitasnya.

“Sekarang kalau mata mulai nggak enak, saya istirahat sebentar. Kalau sudah sepet dan perih, saya pakai Insto Dry Eyes,” katanya.

Menurut Abdul, Insto Dry Eyes membantunya menjaga kenyamanan mata sebelum kembali melanjutkan perjalanan. “Setidaknya mata jadi lebih nyaman dan nggak terlalu perih,” ucapnya.

Kisah Abdul menunjukkan bahwa mata kering tidak hanya dialami pekerja kantoran yang lama menatap layar komputer, tetapi juga pekerja lapangan dengan mobilitas tinggi seperti pengemudi ojol. Meski cuaca tidak selalu terik, paparan lingkungan jalanan dan aktivitas yang menuntut fokus tetap membuat mata rentan mengalami gangguan.

Kesadaran untuk mengenali tanda-tanda awal mata kering menjadi langkah penting agar keluhan tidak terus dianggap sepele. Mata sepet, perih, dan lelah bukan sekadar rasa capek biasa, melainkan sinyal tubuh yang perlu diperhatikan.

Dengan mengenali gejala sejak dini dan mengambil langkah yang tepat, masyarakat diharapkan dapat tetap beraktivitas dengan nyaman dan aman, tanpa mengabaikan kesehatan mata.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Caruban Promosindo

Berita Terbaru

KAI dan DJKA Tinjau Lintas Cirebon untuk Persiapan Angkutan Lebaran
Komisi IX DPR Perkenalkan Program Makan Bergizi Gratis di Gianyar
Pemkot Cirebon Pastikan Simpanan Nasabah BPR Aman di Bawah Penjaminan LPS
KAI Daop 3 Cirebon Buka Kantor Layanan Aset Terpadu di Pegadenbaru
Perumda BPR Bank Cirebon Ditutup, OJK Cabut Izin Usaha
DPRD Kota Cirebon Dorong Pelestarian Tokoh Sejarah Masuk Dokumen Pembangunan
Radio Ekraf 2026 Diluncurkan, Kemenekraf Fokus Benahi Ekosistem Penyiaran Daerah
Muh Haris Sebut MBG Tak Hanya Soal Gizi, tetapi Juga Penggerak Ekonomi Daerah
DJP dan Bareskrim Polri Perbarui Kerja Sama Penegakan Hukum Pajak
Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis Digelar di Desa Kertajaya, Cianjur
Banjir Belum Surut, Polres Cirebon Kota Salurkan Bantuan untuk Warga Villa Intan Klayan
BPBD Catat 234 Kejadian Bencana di Kabupaten Cirebon Sepanjang 2025
Sophi Zulfia: Hasil Rakornas Harus Diterapkan dalam Kebijakan Daerah
Kasus Dugaan Penggelapan PPN Rp583 Miliar, Tiga Perusahaan Baja di Tangerang Diperiksa DJP
AKSA Cafe Resmi Dibuka di Kota Cirebon, Usung Konsep Semi Open Space
Tiket Mudik Lebaran 2026 Masih Banyak, Ini Data Penjualan KAI Daop 3 Cirebon
Sambut Ramadhan, Hotel Santika Premiere Linggarjati Tawarkan Iftar Nusantara–Timur Tengah
Pipa Utama PDAM Kota Cirebon Jebol, Perbaikan Ditargetkan Dua Hari
Pengurus SMSI Kota Cirebon 2026–2029 Dilantik, Tegaskan Komitmen Media Siber Profesional
Perda Pajak Kota Cirebon Dievaluasi Pemerintah Pusat, DPRD Soroti Dampaknya bagi UMKM